PENINGKATAN
PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
DENGAN DITERAPKANNYA METODE DEMONSTRASI PADA SISWA
KELAS V SD YPK PNIEL SAWAR
TAHUN
PELAJARAN 2017/2018
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
OLEH
FITRI
TODING ALLO,
S.Th
NIP. 19800812201104 2 002
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN SARMI
SD YPK PNIEL SAWAR
2018
ABSTRAK
Hendri Maryani, 2012. Peningkatan
Prestasi Belajar Pendidikan Agama kristen dengan Diterapkannya Metode
demonstrasi Pada Siswa Kelas V SD YPK PNIEL SAWAR tahun Pelajaran
2017/2018 .
Kata Kunci: pembelajaran Pendidikan Agama
Kristen, metode demonstrasi
Titik sentral
yang harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya
tujuan pengajaran. Apa pun yang termasuk perangkat program pengajaran dituntut
secara mutlak untuk menunjang tercapainya tujuan. Guru tidak dibenarkan
mengajar dengan kemalasan. Anak didik pun diwajibkan mempunyai kreativitas yang
tinggi dalam belajar, bukan selalu menanti perintah guru. Kedua unsur manusiawi
ini juga beraktivitas tidak lain karena ingin mencapai tujuan secara efektif
dan efisien.
Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Bagimanakah
peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Kristen dengan diterapkannya
metode demonstrasi? (b) Bagaimanakah pengaruh metode demonstrasi terhadap
motivasi belajar Pendidikan Agama Kristen?
Sedangkan
tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Ingin mengetahui peningkatan prestasi
belajar Pendidikan Agama Kristen setelah diterapkannya metode demonstrasi, (b)
Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar Pendidikan Agama Kristen setelah
diterapkan metode demonstrasi.
Penelitian ini menggunakan penelitian
tindakan (action research) sebanyak
tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan,
kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah
siswa Kelas V SD YPK PNIEL SAWAR. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan
belajar mengajar.
Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi
belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu,
siklus I (65,85%), siklus II (78,00%), siklus III 87,80%).
Simpulan dari penelitian ini adalah metode
pengajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dapat berpengaruh
positif terhadap prestasi dan motivasi belajar Siswa SD YPK PNIEL SAWAR , serta model pembelajaran ini dapat
digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul ................................................................................................. i
Halaman
Pengesahan .............................................................................................. ii
Kata
Pengantar ....................................................................................................... iii
Abstrak ................................................................................................................... iv
Daftar Isi
................................................................................................................. v
BAB ..... I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah............................................................. 1
B.
Rumusan Masalah .................................................................... 3
C.
Batasan Masalah ....................................................................... 4
D.
Tujuan Penelitian ....................................................................... 5
E.
Manfaat Penelitian
................................................................... 5
F.
Definisi Operasional Variabel ................................................... 5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Definisi Pembelajaran .............................................................. 7
B. Motivasi Belajar ....................................................................... 8
C.. Meningkatkan Motivasi Belajar
Pendidikan Agama Kristen
..... Pada Siswa .............................................................................. 13
D.. Metode Demonstrasi ............................................................... 15
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Rancangan Penelitian
............................................................. 23
B.
Tempat dan Waktu Penelitian ................................................. 27
C.
Subyek Penelitian
................................................................... 27
D.
Prosedur Penelitian ................................................................. 27
E.
Analisis Data .......................................................................... 28
F.
Instrumen Penelitian ............................................................... 29
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Hubungan Metode Demonstrasi dengan Ketuntasan ............. 33
B.
Pembahasan ............................................................................. 49
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A.
Simpulan ................................................................................. 51
B.
Saran........................................................................................ 51
DAFTAR
PUSTAKA .......................................................................................... 53
LEMBAR
PENGESAHAN
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN DENGAN DITERAPKANNYA METODE
DEMONSTRASI
Penelitian ini disusun untuk memenuhi persyaratan
Kenaikan
Tingkat III/c ke III/d
Disusun Oleh :
FITRI TODING ALLO, S.Th
NIP. 198008122011042 002
Disyahkan di : Sarmi
Tanggal : ………………………
|
|
Kepala Sekolah SD YPK PNIEL Sawar HENOCKH LAMEKH IROTI, S.Pd NIP. 19196401082006051001 |
|
|
|
LEMBAR PENGESAHAN
PENYUSUNAN KARYA TULIS
PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK )
Judul : PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DENGAN DITERAPKANNYA METODE DEMONSTRASI
DI SUSUN OLEH :
NAMA : FITRI TODING ALLO, S.Th
UNIT KERJA : SD YPK PNIEL SAWAR
DISAHKAN PADA :
|
Mengetahui Kepala SD YPK Pniel Sawar |
|
HENOKCH LAMEKH IROTI, S.P.d NIP. 196401082006051001 |
TANGGAL :
.............................................
HALAMAN PUBLIKASI
DISERAHKAN UNTUK
DIPUBLIKASIKAN DI PERPUSTAKAAN SD YPK PNIEL SAWAR
Judul : PENINGKATAN
PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DENGAN
DITERAPKANNYA METODE DEMONSTRASI
DI SUSUN OLEH :
NAMA : FITRI TODING ALLO, S.Th
UNIT KERJA : SD YPK PNIEL SAWAR
Nomer
Register : .................................................
Tanggal :
.................................................
Sarmi , ..............................2018
Pengelola
Perpustakaan
SD YPK Pniel Sawar
Raznyanti Palipadang, S.Pd
NIP.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Semua manusia di dalam hidupnya di dunia ini, selalu
membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut Agama. Mereka merasakan
bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Dzat Yang Maha
Kuasa, tempat mereka berlindung dan tempat mereka memohon pertolongan-Nya. Hal
semacam ini terjadi pada masyarakat yang masih primitive maupun pada
masayarakat yang sudah modern. Mereka akan merasa tenang dan tenteram hatinya
kalau mereka dapat mendekat dan mengabdikan diri kepeda Dzat Yang Maha Kuasa.
Karena itu manusia kan selalu berusaha untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan, hanya saja cara mereka mengabdi dan mendekatkan
diri kepada Tuhan itu berbeda sesuai dengan agama yang dianutnya. Itulah sebabnya, bagi orang Nasrani diperlukan adanya Pendidikan Agama Kristen,
agar dapat mengarahkan pribadi mereka
tersebut kearah yang benar, sehingga mereka akan dapat mengabdi dan beribadah
sesuai dengan ajaran Kristus. Tanpa adanya Pendidikan Agama dari satu generasi
ke generasi berikutnya, maka orang akan semakin jauh dari Agama yang benar.
Tujuan dari Pendidikan Agama adalah untuk membimbing
anak agar mereka menjadi orang Nasrani
sejati, beriman teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia serta berguna
bagi masyarakat, Agama dan Negara, (Euharini, dkk. 1977:25).
Tujuan pendidikan Agama tersebut adalah merupakan
tujuan yang hendak dicapai oleh setiap orang yang melaksanakan pendidikan
Agama. Karena itu dalam pendidikan
agama yang perlu ditanamkan
terlebih dahuilu adalah keimanan yang teguh, sebab dengan adanya keimanan yang
teguh itu maka akan menghasilakn ketaatan menjalankan kewajiban agama.
Titik sentral yang harus dicapai oleh setiap kegiatan
belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Apa pun yang termasuk
perangkat program pengajaran dituntut secara mutlak untuk menunjang tercapainya
tujuan. Guru tidak dibenarkan mengajar dengan kemalasan. Anak didik pun
diwajibkan mempunyai kreativitas yang tinggi dalam belajar, bukan selalu
menanti perintah guru. Kedua unsur manusiawi ini juga beraktivitas tidak lain
karena ingin mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Dengan memperhatikan gejala-gejala tersebut diatas
maka timbul pertanyaan dalam benak penulis sejauh manakah keberhasilan
pengajaran Pendidikan Agama Kristen selama ini? Padalah sering
digembar-gemborkan sebagai bangsa Indonesia kita harus atau wajib mengamalkan
Pancasila sebagai pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Tatapi
kenyataannya masih banyak terdapat penyimpangan-penyimpangan dan pengkhianatan
terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Bahwa ada beberapa
faktor yang menjadi penyebabnya. Diantaranya faktor tesebut adalah strategi
pembelajaran yang kurang mengena terhadap terhadap pelajaran Pendidikan Agama
Kristen dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama
Kristen.
Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut
diatas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Peningkatan Prestasi
Belajar Pendidikan Agama Kristen dengan Diterapkannya Metode Demonstrasi Pada
Siswa Kelas V SD YPK Pniel Sawar tahun Pelajaran 2017/2018 .”
B. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis
merumuskan permasalahnnya sebagi berikut:
- Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar
Pendidikan Agama Kristen dengan diterapkannya metode demonstrasi pada
siswa Kelas V SD YPK Pniel
Sawar tahun pelajaran 2017/2018 ?
- Bagaimanakah pengaruh metode demonstrasi terhadap
motivasi belajar Pendidikan Agama Kristen pada siswa Kelas V SD YPK Pniel Sawar tahun pelajaran
2017/2018 ?
C. Batasan Masalah
- Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas V
SD YPK PNIEL Sawar tahun
pelajaran 2017/2018 .
- Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November
semester ganjil tahun palajaran 2017/2018 .
- Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan Arti
Pertobatan .
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
- Mengetahui peningkatan prestasi belajar Pendidikan
Agama Kristen setelah diterapkannya metode demonstrasi pada siswa Kelas V
SD YPK PNIEL Sawar tahun
pelajaran 2017/2018 .
- Mengetahui pengaruh motivasi belajar Pendidikan
Agama Kristen setelah diterapkan metode demonstrasi pada siswa Kelas V SD YPK PNIEL Sawar tahun
pelajaran 2017/2018 .
- Menyempurnakan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan
Agama Kristen dalam meningkatkan prestasi belajar pada siswa Kelas V SD YPK PNIEL Sawar tahun
pelajaran 2017/2018 .
E. Manfaat Penelitian
Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini
diharapkan dapat berguna sebagai:
- Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang
peranan guru Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan pemahaman siswa
belajar Pendidikan Agama Kristen
- Sumbangan pemikiran bagi guru Pendidikan Agama
Kristen dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar Pendidikan
Agama Kristen.
- Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode
pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
- Sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan
prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen.
- Menerapkan metode yang tepat sesuai dengan materi
pelajaran Pendidikan Agama Kristen.
F. Definisi Operasional Variabel
Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul
penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
- Metode Demonstrasi adalah
Istilah dalam pengajaran yang dipakai untuk menggambarkan suatu cara
mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau
pengoperasioan peralatan barang atau benda. Kerja fisik itu telah dilakukan
atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang
yang mengdemosntasikan (guru, peserta didik, atau orang luar) mempertunjukkan
sambil menjelaskan tentang sesuatu yang didemonstrasikan (Ramayulis, 244:2004).
- Motivasi belajar adalah:
Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah
laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan
dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam
mencapai tujuan tertentu.
- Prestasi belajar adalah:
Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor,
setelah siswa mengikuti pelajaran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Definisi Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang
atau makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh
kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh
pengalaman. (KBBI, 1996:14).
Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993:68)
mengemukakan bahwa belajar adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang
dengan sengaja dikalukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau
mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu
proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh
proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan,
kecakapan, bertambah pengetahuan, bekembang daya pikir, sikap dan lain-lain
(Soetomo, 1993:120).
Pasal 1 Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang
menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan
kegiatan pada situasi tertentu.
B. Motivasi Belajar
- Konsep Motivasi
Pengajaran tradisional menitik beratkan pada metode
imposisi, yakni pengajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting
oleh guru bagi murid (Hamalik, Oemar: 2001:157). Cara ini tidak
mempertimbangkan apakah bahan pelajaran yang diberikan itu sesuai atau tidak
dengan kesanggupan, kebutuhan, minat, dan tingkat kesanggupan, serta pemahaman
murid. Tidak pula diperhatikan apakah bahan-bahan yang diberikan itu didasarkan
atas motif-motif dan tujuan yang ada pada murid.
Sejak adanya penemuan-penemuan baru dalam bidang
psikologi tentang kepribadian dan tingkah laku manusia, serta perkembangan
dalam bidang ilmu pendidikan maka pandangan tersebut kemudian berubah. Faktor
siswa didik justru menjadi unsur yang menentukan berhasil atau tidaknya
pengajaran berdasarkan “pusat minat” anak makan, pakaian, permainan/bekerja.
Kemudian menyusul tokoh pendidikan lainnya seperti Dr. John Dewey, yang
terkenal dengan “pengajaran proyeknya”, yang berdasarkan pada masalah yang
menarik minat siswa, sistem perekolahan lainnya. Sehingga sejak itu pula para
ahli berpendapat, bahwa tingkah laku manusia didorong oleh motif-motif
tertentu, dan perbuatan belajar akan berhasil apabila didasarkan pada motivasi
yang ada pada murid. Murid dapat dipaksa untuk mengikuti semua perbuatan,
tetapi ia tidak dapat dipaksa untuk menghayati perbuatan itu sebagaimana
mestinya. Seekor kuda dapat digiring ke sungai tetapi tidak dapat dipaksa untuk
minum. Demikian pula juga halnya dengan murid, guru dapat memaksakan bahan
pelajaran kepada mereka, akan tetapi guru tidak mungkin dapat memaksanya untuk
belajar belajar dalam arti sesungguhnya. Inilah yng menjadi tugas yang paling
berat yakni bagaimana caranya berusaha agar murid mau belajar, dan memiliki
keinginan untuk belajar secara kontinyu.
- Pengertian Motivasi
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang
mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme
yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau
perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif
menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai
tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya
untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000: 28).
Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi
adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk
aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi
sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar
tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini sesuai dengan yang
diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar
sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari
materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan
lebih baik.
Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong
seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
- Macam-macam Motivasi
Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.
Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam
individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga
dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar
(Usman, 2000: 29).
Sedangkan
menurut Djamarah (2002: 115), motivasi instrinsik adalah motif-motif yang
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam
setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994: 105) ada
beberapa strategi dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi
tersebut adalah sebagai berikut:
1)
Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa.
2)
Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran
sebatas yang pokok.
3)
Memberikan banyak waktu ekstra bagi siswa untuk
mengerjakan tugas dan memanfaatkan sumber belajar di sekolah.
4)
Sesekali memberikan penghargaan pada siswa atas
pekerjaannya.
5)
Meminta siswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi
instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinya
tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik
dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak
memerlukan motivasi dari luar dirinya.
b.
Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari
luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang
lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu
atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang
tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya (Usman, 2000: 29).
Sedangkan menurut Djamarah (2002: 117), motivasi
ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah
motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.
Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam
menumbuhkan motivasi instrinsik antata lain:
1)
Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan
persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha
memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi
orang lain.
2)
Pace Making
(membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar
guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan dicapai
sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.
3)
Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk
mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu
yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan sesuatu
perbuatan.
4)
Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan
rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan
kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya
banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha
mandiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
5)
Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu
memiliki minat yang besar.
6)
Mengadakan penilaian atau tes. Pada umumnya semua siswa
mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam
kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan
tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah
siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jadi,
angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.
Dari uraian di atas diketahui bahwa motivasi
ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar individu yang berfungsinya
karena adanya perangsang dari luar, misalnya adanya persaingan, untuk mencapai
nilai yang tinggi, dan lain sebagainya.
C. Meningkatkan Motivasi Belajar Pendidikan
Agama Kristen Pada Siswa
Telah disepakati oleh ahli pendidikan bahwa guru
merupakan kunci dalam proses belajar mengajar. Bila hal ini dilihat dari segi
nilai lebih yang dimiliki oleh guru dibandingkan dengan siswanya. Nilai lebih
ini dimiliki oleh guru terutama dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru
bidang studi pengajarannya. Walau demikian nilai lebih itu tidak akan dapat
diandalkan oleh guru, apabila ia tidak memiliki teknik-teknik yang tepat untuk
mentransferkan kepada siswa. Disamping itu kegiatan mengajar adalah suatu
aktivitas yang sangat kompleks, karena itu sangat sukar bagi guru Pendidikan Agama
Kristen bagaimana caranya mengajar dengan baik agar dapat meningkatkan motivasi
siswa dalam belajar Pendidikan Agama Kristen.
Untuk merealisasikan keinginan tersebut, maka ada
beberapa prinsip umum yang harus dipengang oleh guru Pendidikan Agama Kristen
dalam menjalankan tugasnya. Menurut Prof. DR. S. Nasution, prinsip-prinsip umum
yang harus dipengang oleh guru Pendidikan Agama Kristen dalam menjalankan
tugasnya adalah sebagai berikut:
- Guru yang baik memahami dan menghormati siswa.
- Guru yang baik harus menghormati bahan pelajaran
yang diberikannya.
- Guru hendaknya menyesuaikan bahan pelajaran yang
diberikan dengan kemampuan siswa.
- Guru hendaknya menyesuaikan metode mengajar dengan
pelajarannya.
- Guru yang baik mengaktifkan siswa dalam belajar.
- Guru yang baik memberikan pengertian, bukan hanya
dengan kata-kata belaka. Hal ini untuk menghindari verbalisme pada murid.
- Guru menghubungkan pelajaran pada kehidupan siswa.
- Guru terikat dengan texs book.
- Guru yang baik tidak hanya mengajar dalam arti
menyampaikan pengetahuan, melainkan senantiasa membentuk kepribadian
siswanya.
Sehubungan dengan upaya meningkatkan motivasi belajar
siswa ada dua prinsip yang harus diperhatiakn oleh guru sebagaimana yang
dikemukakan oleh Thomas F. Saton sebagai berikut:
- Menyelidiki dengan jelas dan tegas apa yang
diharapkan dari pelajaran untuk dipelajari dan mengapa ia diharapkan
mempelajarinya.
- Menciptakan kesadaran yang tinggi pada pelajaran
akan pentingnya memiliki skill dan pengetahuan yang akan diberikan oleh
program pendidikan itu.
Dari prinsip-prinsip umum di atas, menunjukkan bahwa
peranan guru Pendidikan Agama Kristen dalam mengajar Pendidikan Agama Kristen
dapat dikatakan sangat dominan, begitu pula dalam meningkatkan motivasi belajar
siswa tampaknya guru yang mengetahui akan kemampuan siswa-siswanya baik secara
individual maupun secara kelompok, guru mengetahui persoalan-persoalan belajar
dan mengajar, guru pula yang mengetahui kesulitan-kesuliatan siswa terhadap
pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan bagaimana cara memecahkannya.
D. Metode Demonstrasi
- Definisi
Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk
menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan
suatu kerja fisik atau pengoperasioan peralatan barang atau benda. Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu
telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang yang
mengdemosntasikan (guru, peserta didik, atau orang luar) mempertunjukkan sambil
menjelaskan tentang sesuatu yang didemonstrasikan (Ramayulis, 244:2004).
Dalam mengajarkan praktek-praktek agama, Yesus Kristus sebagai pendidik
agung banyak mempergunakan metode ini. Seperti mengajarkan cara Menelaah Kisah Para Rasul 9 : 1-19a; I Yohanes 1 : 9-10 dan sebagainya.
Dalam suatu acara yesus pernah menerangkan kepada umatnya; sabda yesus
kristus: “Beribadahlah kamu sebagaimana kamu lihat aku sembahyang”
Bila kita perhatikan sabda tersebut, nyatalah bahwa
cara-cara sembahyang tersebut pernah dipraktekkan dan didemonstrasikan oleh
Yesus Kristus.
Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk
menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan
suatu kerja fisik atau pengoperasian peralatan barang atau benda (Ramayulis,
244.1990). Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih
dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang yang mendemonstrasikan (guru, peserta
didik atau orang luar) mempertunjukkan sambil menjelaskan tentang sesuatu yang
didemonstrasikan.
- Kebaikan Metode Demonstrasi
a.
Keaktifan peserta didik akan bertambah, lebih-lebih
kalau peserta didik diikut sertakan.
b.
Pengalaman peserta didik bertambah karena peserta didik
turut membantu pelaksanaan suatu demonstrasi sehingga ia menerima pengalaman
yang bisa mengembangkan kecakapannya.
c.
Pelajaran yang diberikan lebih tahan lama. Dalam suatu
demonstrasi, peserta didik bukan saja mendengar suatu uraian yang diberikan
oleh guru tetapi juga memperhatikannya bahkan turut serta dalam pelaksanaan
suatu demonstrasi .
d.
Pengertian lebih cepat dicapai. Peserta didik dalam
menanggapai suatu proses adalah dengan mempergunakan alat pendengar, penglihat,
dan bahkan dengan perbuatannya sehingga memudahkan pemahaman peserta didik dan
menghilangkan sifat verbalisme dalam belajar.
e.
Perhatian peserta didik dapat dipusatkan dan titik yang
yang dianggap penting oleh guru dapat diamati oleh peserta didik seperlunya.
Sewaktu demonstrasi perhatian peserta didik hanya tertuju kepada suatu yang
didemonstrasikan sebab peserta didik lebih banyak diajak mengamati proses yang
sedang berlangsung dari pada hanya semata-mata mendengar saja.
f.
Mengurangi kesalahan-kesalahan. Penjelasan secara lisan
banyak menimbulkan salah paham atau salah tafsir dari peserta didik apalagi
kalau penjelasan tentang suatu proses. Tetapi dalam demonstrasi, disamping
penjelasan lisan juga dapat memberikan gambaran konkrit.
g.
Beberapa masalah yang menimbulkan petanyaan atau
masalah dalam diri peserta didik dapat terjawab pada waktu peserta didik
mengamai proses demonstrasi.
h.
Menghindari ”coba-coba dan gagal” yang banyak memakan waktu belajar, di samping
praktis dan fungsional. Khususnya bagi peserta didik yang ingin berusaha
mengamati secara lengkap dan teliti atau jalannya sesuatu.
- Kelemahan Metode Demonstrasi
a.
Metode ini membutuhkan kemampuan yang optimal dari
pendidikan untuk itu perlu persiapan yang matang.
b.
Sulit dilaksanakan kalau tidak ditunjang oleh tempat,
waktu dan peralatan.
- Mempesiapkan Suatu Demonstrasi
Suatu demonstrasi yang baik membutuhkan pesiapan yang
teliti dan cermat. Sejauh mana persiapan itu dilakukan amat banyak tergantung
kepada pengalaman yang telah dilalui dan kepada macam atau demonstrasi apa yang
ingin disajikan. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa untuk melakukan
demonstrasi yang diperlukan:
a.
Perumusan tujuan instruksional khusus yang jelas yang
meliputi berbagai aspek, sehingga dapat diharapkan peserta didik itu akan dapat
melaksanakan kegiatan yang didemonstrasikan itu setelah pertemuan berakhir.
Untuk itu hendaknya guru mempertimbangkan:
1)
Apakah metode itu wajar dipergunakan dan merupakan cara
paling efektif untuk mencapai tujuan intrusional khusus tersebut.
2)
Apakah alat-alat yang diperlukan itu mudah diperoleh
dan sudah dibacakan terlebih dahulu atau apakah kegiatan-kegiatan fisik bisa
dilakukan dan telah dilatih kembali sebelum demonstrasi dilakukan.
3)
Apakah jumlah peserta didik tidak telalu besar yang
memerlukan tempat dan tata ruang khsusus agar semua peserta didik dapat
berpartisipasi secara aktif.
b.
Menetapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang
akan dilaksanakan. Dan sebaiknya sebelum demonstrasi, guru sudah mencobakannya
lebih dahulu agar demonstrasi itu tidak gagal.
1)
Apakah guru terbiasa atau memahami benar terhadap semua
langkah-langkah atau tahap-tahap dari demonstrasi yang akan dilakukan.
2)
Apakah guru mepunyai pengalaman yang cukup untuk
menjelaskan setiap langkah demonstrasi itu.
3)
Apakah tidak membutuhkan latihan lanjutan untuk
menguasai demonstrasi itu.
c.
Mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan. Hendaknya guru
sudah merncanakan seluruh waktu yang dipakai maupun batas waktu untuk langkah
demonstrasi yang akan dilakukan sehingga pertanyaan-pertanyaan di bawah ini
terjawab.
1)
Apakah kendalanya juga sudah termasuk waktu untuk
memberi kesempatan kepada peserta didik mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan
komentar selama dan sesudah demonstrasi?
2)
Berapa lama waktu yang dipakai untuk memberi rangsangan
atau motivasi agar peserta didik berpartisipasi dan melakukan observasi ulang,
baik sebagian maupun keseluruhan?
3)
Apakah ke dalamnya juga termasuk waktu untuk mengadakan
demonstrasi ulang, baik sebagian maupun keseluruhan?
d.
Selama demonstrasi berlangsung guru dapat
mempertanyakan kepada diri sendiri apakah:
1)
Keterangan-keterangan itu dapat didengar jelas oleh
peserta didik.
2)
Kedudukan alat atau kedudukan guru sendiri sudah cukup
baik sehingga semua peserta didik dapat melihatnya dengan jelas.
3)
Terdapat cukup waktu dan kesempatan untuk membuat
catatan seperlunya bagi peserta didik.
e.
Mempertimbangkan pengguanan alat bantu pengajaran
lainnya, sesuai dengan luasan makna dan isi dari demonstrasi. Untuk itu dapat dipertanyakan hal-hal berikut:
1)
Adakah guru menyimpulkan kegiatan dari setiap
langkah-langkah pokok demonstrasi itu.
2)
Bagaimana dan kapan dilakukan semua hal-hal itu,
sebelum, sesudah atau selama demonstrasi itu berlangsung.
f.
Menetapkan rencana untuk menilai kemajuan murid.
Seringkali perlu telebih dahulu dilakukan diskusi-diskusi dan peserta didik
mencobakan kembali atau mengadakan demonstrasi ulang untuk memperoleh kecakapan
yang lebih baik.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan
masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian
deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan
dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Menurut Sukidin dkk. (2002:54) ada 4 macam bentuk penelitian tindakan,
yaitu:
(1) penelitian tindakan guru
sebagai peneliti,
(2) penelitian tindakan kolaboratif,
(3) penelitian tindakan simultan
terintegratif, dan
(4) penelitian tindakan sosial
eksperimental.
Keempat bentuk penelitian tindakan
di atas, ada persamaan dan perbedaannya. Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana
dikutip oleh Kasbolah, (Sukidin, dkk. 2002:55), ciri-ciri dari setiap
penelitian tergantung pada:
(1) tujuan
utamanya atau pada tekanannya,
(2) tingkat
kolaborasi antara pelaku peneliti dan peneliti dari luar,
(3) proses yang digunakan dalam melakukan
penelitian, dan
(4) hubungan antara proyek dengan sekolah.
Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana
guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam
bentuk ini, tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan
praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung
secara penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat
kecil.
Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan.
Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah
berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi
perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan
akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
A. Rancangan Penelitian
Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah
penelitian tentang hal-hal yang terjadi dimasyarakat atau sekolompok sasaran,
dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan
(Arikunto, 2002:82). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan
adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota
kelompok sasaran. Penelitian tidakan adalah satu strategi pemecahan masalah
yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan invovatif
yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam
prosesnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling
mendukung satu sama lain.
Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi
beberapa prinsip sebagai berikut:
- Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi
kriteria, yaitu benar-benar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu
ditangani serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan
perubahan.
- Kegiatan penelitian, baik intervensi maupun
pengamatan yang dilakukan tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat
kegiatan utama.
- Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan
efisien, artinya terpilih dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan
waktu, dana dan tenaga.
- Metodologi yang digunakan harus jelas, rinci, dan
terbuka, setiap langkah dari tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga
orang yang berminat terhadap penelitian tersebut dapat mengecek setiap
hipotesis dan pembuktiannya.
- Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan
proses kegiatan yang berkelanjutan (on-going),
mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan
memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi tantangan sepanjang waktu.
(Arinkunto, Suharsimi, 2002:82-83).
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu
penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan
dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, Suharisimi, 2002: 83), yaitu berbentuk
spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation
(pengamatan), dan reflection (refleksi).
Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan,
pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan
pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari
tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut:
Refleksi Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Tindakan/ Observasi Rencana yang
direvisi Rencana awal/rancangan Rencana yang
direvisi Putaran 1 Putaran 2 Putaran dst Refleksi
Gambar 3.1 Alur PTK
Penjelasan alur di atas adalah:
- Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian
peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan,
termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
- Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang
dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa
serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya pengajaran
kontekstual model pengajaran berbasis masalah.
- Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan
mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan
berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
- Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil
refleksi dari pengamat membuat rangcangan yang direvisi untuk dilaksanakan
pada siklus berikutnya.
Observasi dibagi dalam setiap siklus, yaitu siklus 1,
2, dan seterusnya, dimana masing siklus dikenai perlakuan yang sama (alur
kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan
tes formatif di akhir masing putaran. Siklus ini berkelanjutan dan akan
dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam
melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat
di SD YPK PNIEL Sawar tahun
pelajaran 2017/2018 .
2. Waktu
Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya
penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan
pada bulan November semester ganjil 2017/2018 .
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas V SD YPK PNIEL Sawar tahun pelajaran
2017/2018 pada pokok bahasan Arti Pertobatan .
D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
(1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap penyelesaian.
- TahapPersiapan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap persiapan ini
adalah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan
penelitian. Dalam kegiatan ini diharapkan pelaksanaan penelitian akan berjalan
lancar dan mencapai tujuan yang diinginkan. Kegiatan persiapan ini meliputi:
(1) kajian pustaka, (2) penyusunan rancangan penelitian, (3) orientasi
lapangan, dan (4) penyusunan instrumen penelitian.
- Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan penelitian ini, kegiatan yang
dilakukan meliputi: (1) pengumpulan data melalui tes dan pengamatan yang
dilakukan persiklus, (2) diskusi dengan pengamat untuk memecahkan kekurangan
dan kelemahan selama proses belajar mengajar persiklus, (3) menganalisi data
hasil penelitian persiklus, (4) menafsirkan hasil analisis data, dan (5)
bersama-sama dengan pengamat menentukan langkah perbaikan untuk siklus
berikutnya.
- Tahap Penyelesaian
Dalam tahap penyelesaian, kegiatan yang dilakukan
meliputi: (1) menyusun draf laporan penelitian, (2) mengkonsultasikan draf
laporan penelitian, (3) merevisi draf laporan penelitian, (4) menyusun naskah
laporan penelitian, dan (5) menggandakan laporan penelitian.
D. Analisis Data
Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul
sehingga dapat mengahsilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan,
maka digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan
data kualitatif. Car perhitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa
dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:
1.
Merekapitulasi hasil tes.
2.
Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya
untuk masing-masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti
yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas
secara individual jika mendapatkan nilai minimal 65, sedangkan secara klasikal
dikatakan tuntas belajar jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai
85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%.
3.
Menganalisis hasil observasi yang dilakukan oleh teman
sejawat pada aktivitas guru dan siswa selama kegiatan belajar mengajar
berlangsung.
E. Instrumen Penelitian
Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes
buatan guru yang fungsinya adalah: (1) Untuk menentukan seberapa baik siswa
telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu; (2) Untuk
menentukan apakah suatau tujuan telah tercapai; dan (3) Untuk memperoleh suatu
nilai (Arikunto, 2002:149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui
ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal. Disamping
itu untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga
dapat dilihat dimana kelemahannya, khususnya pada bagian mana TPK yang belum
tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga digunakan metode
observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh teman sejawat untuk mengetahui dan
merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.
F. Analisis Data
Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam
kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini
menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode
penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data
yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai
siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta
aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau
persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya
dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap
akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik
sederhana yaitu:
- Untuk menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh
siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut
sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
Dengan :
Σ X =
Jumlah semua nilai siswa
Σ N =
Jumlah siswa
- Untuk ketuntasan belajar
Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara
perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar
mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas
belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas
belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap
lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar
digunakan rumus sebagai berikut:
- Untuk lembar observasi
a.
Lembar observasi pengelolaan cara belajar aktif model group close.
Untuk menghitung lembar observasi pengelolaan cara belajar aktif model group close digunakan rumus sebagai
berikut:
Dimana: P1 = pengamat 1 dan P2
= pengamat 2
b.
Lembar observasi aktivitas guru dan siswa
Untuk menghitung lembar observasi aktivitas guru dan siswa digunakan
rumus sebagai berikut:
Dimana: % =
Persentase pengamatan
P1
= Pengamat 1
P2 = Pengamat 2
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hubungan Metode Demonstrasi dengan Ketuntasan
Belajar
Suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dianggap
tuntas secara klasikal jika siswa yang mendapat nilai 65 lebih dari atau sama
dengan 85%, sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada pokok
bahasan atau sub pokok bahasan tertentu jika mendapat nilai minimal 65.
1. Siklus I
a. Tahap
Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan
alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi
pengelolaan metode demonstrasi, dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.
b. Tahap
Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I
dilaksanakan pada tanggal 6 November 2017 di Kelas V dengan jumlah siswa 15 siswa. Dalam hal ini peneliti
bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah
Kepala Sekolah SDN YPK Pniel Sawar dan Wali Kelas V .
Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah
dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan
belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada
siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2. Pengelolan Pembelajaran Pada Siklus I
|
No |
Aspek yang diamati |
Penilaian
|
Rata-rata
|
|
|
P1 |
P2 |
|||
|
I |
Pengamatan
KBM A. Pendahuluan
|
2 2 |
2 2 |
2 2 |
|
B. Kegiatan Inti
|
3 3 3 3 3 |
3 3 3 3 3 |
3 3 3 3 3 |
|
|
C. Penutup
|
3 3 |
3 3 |
3 3 |
|
|
II |
Pengelolaan
Waktu |
2 |
2 |
2 |
|
III |
Antusiasme
Kelas
|
2 3 |
2 3 |
2 3 |
|
Jumlah |
32 |
32 |
32 |
|
Keterangan : Nilai : Kriteria
1
: Tidak Baik
2
: Kurang Baik
3
: Cukup Baik
4
: Baik
Berdasarkan tabel di atas aspek-aspek yang mendapatkan
kriteria kurang baik adalah memotivasi siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran,
pengelolaan waktu, dan siswa antusias. Keempat aspek yang mendapat penilaian
kurang baik di atas, merupakan suatu kelemahan yang terjadi pada siklus I. Dan
akan dijadikan bahan kajian untuk refleksi dan revisi yang akan dilakukan pada
siklus II.
Hasil observasi berikutnya adalah aktivitas guru dan
siswa seperti pada tabel berikut.
Tabel
4.3. Aktivitas Guru Dan Siswa Pada Siklus I
|
No |
Aktivitas Guru yang diamati |
Persentase |
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 |
Menyampaikan
tujuan Memotivasi
siswa/merumuskan masalah Mengkaitkan
dengan pelajaran berikutnya Menyampaikan
materi/langkah-langkah/strategi Menjelaskan
materi yang sulit Membimbing dan mengamati
siswa dalam menemukan konsep Meminta
siswa memikirkan untuk lebih memahami materi pelajaran Memberikan
umpan balik Membimbing
siswa merangkum pelajaran |
5,0 8,3 8,3 6,7 13,3 21,7 10,0 18,3 8,3 |
|
No |
Aktivitas Siswa yang diamati |
Persentase |
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 |
Mendengarkan/memperhatikan
penjelasan guru Membaca
buku siswa Bekerja
dengan sesama teman sebangku Diskusi
antar siswa/antara siswa dengan guru Menyajikan
hasil pembelajaran Mengajukan/menanggapi
pertanyaan/ide Menulis
yang relevan dengan KBM Merangkum
pembelajaran Mengerjakan
tes evaluasi |
22,5 11,5 18,7 14,4 2,9 5,2 8,9 6,9 8,9 |
Berdasarkan tabel di atas tampak
bahwa aktivitas guru yang paling dominan pada siklus I adalah membimbing dan
mengamati siswa dalam menemukan konsep yaitu 21,7%. Aktivitas lain yang
persentasenya cukup besar adalah memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dan
menjelaskan materi yang sulit yaitu masing-masing sebesar 18,3% dan 13,3%.
Sedangkan aktivitas siswa yang paling dominan adalah mengerjakan/memperhatikan
penjelasan guru yaitu 22,5%. Aktivitas lain yang persentasenya cukup besar
adalah Bekerja dengan sesama teman sebangku, diskusi antar siswa/antara siswa
dengan guru, dan membaca buku yaitu masing-masing 18,7% 14,4 dan 11,5%.
Pada siklus I, secara garis besar kegiatan belajar
mengajar dengan metode demonstrasi sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun
peran guru masih cukup dominan untuk memberikan penjelasan dan arahan karena
model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa.
Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif
siswa seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel
4.4. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I
|
No |
Uraian |
Hasil Siklus I |
|
1 2 3 |
Nilai
rata-rata tes formatif Jumlah
siswa yang tuntas belajar Persentase
ketuntasan belajar |
70,49 27 65,85 |
Dari tabel di
atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode demonstrasi diperoleh
nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 70,49 dan ketuntasan belajar
mencapai 65,85% atau ada 10 siswa dari
15 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus
pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang
memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 65,85% lebih kecil dari persentase
ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa
masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru
dengan menerapkan metode demonstrasi.
c. Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh
informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:
1)
Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam
menyampaikan tujuan pembelajaran
2)
Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu
3)
Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung
d. Refisi
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I
ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan
pada siklus berikutnya.
1)
Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan
lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk
terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.
2)
Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan
menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan
3)
Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam
memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.
2. Siklus II
a. Tahap
perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan
alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar
observasi pengelolaan metode demonstrasi dan lembar observasi guru dan siswa.
b. Tahap
kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II
dilaksanakan pada tanggal 13 November 2011 di Kelas V dengan jumlah siswa 15
siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang
bertindak sebagai pengamat adalah Kepala Sekolah SD YPK Pniel Sawar dan Wali Kelas V . Adapun proses belajar
mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus
I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada
siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan
belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah
tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.5. Pengelolaan
Pembelajaran Pada Siklus II
|
No |
Aspek yang diamati |
Penilaian |
Rata-rata |
|
|
P1 |
P2 |
|||
|
I |
Pengamatan
KBM A. Pendahuluan
|
3 3 |
3 4 |
3 3,5 |
|
B. Kegiatan Inti
|
3 4 4 4 3 |
4 4 4 4 3 |
3,5 4 4 4 3 |
|
|
C. Penutup
|
3 4 |
4 4 |
3,5 4 |
|
|
II |
Pengelolaan
Waktu |
3 |
3 |
2 |
|
III |
Antusiasme
Kelas
|
4 4 |
3 4 |
3,5 4 |
|
Jumlah |
41 |
43 |
42 |
|
Keterangan : Nilai : Kriteria
1 : Tidak
Baik
2 : Kurang
Baik
3 : Cukup
Baik
4 :
Baik
Dari tabel diatas, tampak aspek-aspek yang diamati
pada kegiatan belajar mengajar (siklus II) yang dilaksanakan oleh guru dengan
menerapkan metode demonstrasi mendapatkan penilaian yang cukup baik dari
pengamat. Maksudnya dari seluruh penilaian tidak terdapat nilai kurang. Namum
demikian penilaian tersebut belum merupakan hasil yang optimal, untuk itu ada
beberapa aspek yang perlu mendapatkan perhatian untuk penyempurnaan penerapan
pembelajaran selanjutnya. Aspek-aspek tersebut adalah memotivasi siswa,
membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep, dan pengelolaan waktu.
Dengan penyempurnaan aspek-aspek di atas dalam
penerapan metode demonstrasi diharapkan siswa dapat menyimpulkan apa yang telah
mereka pelajari dan mengemukakan pendapatnya sehingga mereka akan lebih
memahami tentang apa yang telah mereka lakukan.
Berikut disajikan hasil
observasi aktivitas guru dan siswa:
Tabel 4.6. Aktivitas Guru Dan Siswa Pada Siklus II
|
No
|
Aktivitas Guru yang diamati |
Persentase |
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 |
Menyampaikan
tujuan Memotivasi
siswa/merumuskan masalah Mengkaitkan
dengan pelajaran berikutnya Menyampaikan
materi/langkah-langkah/strategi Menjelaskan
materi yang sulit Membimbing
dan mengamati siswa dalam menentukan konsep Meminta
siswa memikirkan untuk lebih memahami materi pelajaran Memberikan
umpan balik Membimbing
siswa merangkum pelajaran |
6,7 6,7 6,7 11,7 11,7 25,0 8,2 16,6 6,7 |
|
No |
Aktivitas Siswa yang diamati |
Persentase |
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 |
Mendengarkan/memperhatikan
penjelasan guru Membaca
buku siswa Bekerja
dengan sesama teman sebangku Diskusi
antar siswa/antara siswa dengan guru Menyajikanhasil
pembelajaran Mengajukan/menanggapi
pertanyaan/ide Menulis
yang relevan dengan KBM Merangkum
pembelajaran Mengerjakan
tes evaluasi/latihan |
17,9 12,1 21,0 13,8 4,6 5,4 7,7 6,7 10,8 |
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru
yang paling dominan pada siklus II adalah membimbing dan mengamati siswa dalam
menemukan konsep yaitu 25%. Jika dibandingkan dengan siklus I, aktivitas ini
mengalami peningkatan. Aktivitas guru yang mengalami penurunan adalah memberi
umpan balik/evaluasi/tanya jawab (16,6%), menjelaskan materi yang sulit
(11,7). Meminta siwa mendiskusikan dan
menyajikan hasil kegiatan (8,2%), dan membimbing siswa merangkum pelajaran (6,7%).
Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan
pada siklus II adalah Bekerja dengan sesama teman sebangku yaitu (21%). Jika
dibandingkan dengan siklus I, aktivitas ini mengalami peningkatan. Aktivitas
siswa yang mengalami penurunan adalah mendengarkan/memperhatikan penjelasan
guru (17,9%). Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru (13,8%), menulis
yang relevan dengan KBM (7,7%) dan merangkum pembelajaran (6,7%). Adapun
aktivitas siswa yang mengalami peningkatan adalah membaca buku (12,1%), menyajikan
hasil pembelajaran (4,6%), menanggapi/mengajukan pertanyaan/ide (5,4%), dan
mengerjakan tes evaluasi (10,8%).
Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif
siswa terlihat pada tabel berikut.
Tabel
4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II
|
No |
Uraian |
Hasil Siklus II |
|
1 2 3 |
Nilai
rata-rata tes formatif Jumlah
siswa yang tuntas belajar Persentase
ketuntasan belajar |
73,90 32 78,00 |
Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi
belajar siswa adalah 73,90 dan ketuntasan belajar mencapai 78,00% atau ada 32
siswa dari 15 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada
siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan
sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini
karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu
diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk
belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dinginkan
guru dengan menerapkan metode demonstrasi.
c. Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi
dari hasil pengamatan sebagai berikut:
1)
Memotivasi siswa
2)
Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep
3)
Pengelolaan waktu
d. Refisi
Rancangan
Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih
terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan
pada siklus II antara lain:
1)
Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat
siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.
2)
Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada
perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya.
3)
Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa
merumuskan kesimpulan/menemukan konsep.
4)
Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga
kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
5)
Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan
memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar
mengajar.
3. Siklus III
a. Tahap
Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan
alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar
observasi pengelolaan metode demonstrasi dan lembar observasi aktivitas guru
dan siswa.
b. Tahap
kegiatan dan pengamatan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III
dilaksanakan pada tanggal 20 November 2017 di Kelas V dengan jumlah siswa 15 siswa. Dalam hal ini peneliti
bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah
Kepala Sekolah SD YPK PANIEL Sawar
dan Wali Kelas V . Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran
dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan
pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi)
dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah
tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai
berikut:
Tabel
4.8. Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus III
|
No |
Aspek yang diamati |
Penilaian |
Rata-rata |
|
|
P1 |
P2 |
|||
|
I |
Pengamatan
KBM A. Pendahuluan
|
3 4 |
3 4 |
3 4 |
|
B. Kegiatan Inti
|
4 4 4 4 3 |
4 4 4 3 3 |
4 4 4 3,5 3 |
|
|
C. Penutup 1. Membimbing siswa membuat rangkuman 2. Memberikan evaluasi |
4 4 |
4 4 |
4 4 |
|
|
II |
Pengelolaan
Waktu |
3 |
3 |
3 |
|
III |
Antusiasme
Kelas
|
4 4 |
4 4 |
4 4 |
|
|
Jumlah
|
45 |
44 |
44,5 |
Keterangan :
Nilai : Kriteria
1 : Tidak
Baik
2 : Kurang
Baik
3 : Cukup
Baik
4 : Baik
Dari tabel di atas, dapat dilihat aspek-aspek yang
diamati pada kegiatan belajar mengajar (siklus III) yang dilaksanakan oleh guru
dengan menerapkan metode demonstrasi mendapatkan penilaian cukup baik dari
pengamat adalah memotivasi siswa, membimbing siswa merumuskan
kesimpulan/menemukan konsep, dan pengelolaan waktu.
Penyempurnaan aspek-aspek diatas dalam menerapkan
metode demonstrasi diharapkan dapat berhasil semaksimal mungkin.
Tabel 4.9.
Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus III
|
No |
Aktivitas Guru yang diamati |
Persentase |
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 |
Menyampaikan
tujuan Memotivasi
siswa/merumuskan masalah Mengkaitkan
dengan pelajaran berikutnya Menyampaikan
materi/langkah-langkah/strategi Menjelaskan
materi yang sulit Membimbing
dan mengamati siswa dalam menemukan konsep Meminta
siswa menyajikan dan mendiskusikan
hasil kegiatan Memberikan
umpan balik Membimbing
siswa merangkum pelajaran |
6,7 6,7 10,7 13,3 10,0 22,6 10,0 11,7 10,0 |
|
No |
Aktivitas Siswa yang diamati |
Persentase |
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 |
Mendengarkan/memperhatikan
penjelasan guru Membaca
buku siswa Bekerja
dengan sesama teman sebangku Diskusi
antar siswa/antara siswa dengan guru Menyajikanhasil
pembelajaran Mengajukan/menanggapi
pertanyaan/ide Menulis
yang relevan dengan KBM Merangkum
pembelajaran Mengerjakan
tes evaluasi/latihan |
20,8 13,1 22,1 15,0 2,9 4,2 6,1 7,3 8,5 |
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru
yang paling dominan pada siklus III adalah membimbing dan mengamati siswa dalam
menemukan konsep yaitu 22,6%, sedangkan aktivitas menjelaskan materi yang sulit
dan memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab menurun masing-masing sebesar
(10%) dan (11,7%). Aktivitas lain yang mengalami peningkatan adalah mengaitkan
dengan pelajaran sebelumnya (10%), menyampaikan materi/strategi
/langkah-langkah (13,3%), meminta siswa memikirkan untuk lebih memahami materi
pelajaran (10%), dan membimbing siswa merangkum pelajaran (10%). Adapun
aktivitas yang tidak mengalami perubaan adalah menyampaikan tujuan (6,7%) dan
memotivasi siswa (6,7%).
Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan
pada siklus III adalah Bekerja dengan sesama teman sebangku yaitu (22,1%) dan
mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (20,8%), aktivitas yang mengalami
peningkatan adalah membaca buku siswa (13,1%) dan diskusi antar siswa/antara
siswa dengan guru (15,0%). Sedangkah aktivitas yang lainnya mengalami
penurunan.
Berikutnya adalah rekapitulasai hasil tes formatif
siswa seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel 4.10. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III
|
No |
Uraian |
Hasil Siklus III |
|
1 2 3 |
Nilai
rata-rata tes formatif Jumlah
siswa yang tuntas belajar Persentase
ketuntasan belajar |
77,80 36 87,80 |
Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes
formatif sebesar 77,80 dan dari 15 siswa yang telah tuntas sebanyak 35 siswa
dan 5 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan
belajar yang telah tercapai sebesar 87,80% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami
peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada
siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan
metode demonstrasi sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran
seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah
diberikan.
c. Refleksi
Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana
dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan
penerapan metode demonstrasi. Dari data-data yang telah diperoleh dapat
duraikan sebagai berikut:
1)
Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan
semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum
sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup
besar.
2)
Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa
aktif selama proses belajar berlangsung.
3)
Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah
mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.
4)
Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai
ketuntasan.
d. Revisi
Pelaksanaan
Pada siklus III guru telah menerapkan metode
demonstrasi dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar
siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka
tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk
tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada
dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya
penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan proses belajar mengajar
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
B. Pembahasan
1. Ketuntasan
Hasil belajar Siswa
Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode
demonstrasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi
yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, II, dan III)
yaitu masing-masing 65,85%, 78,00%, dan 87,80%. Pada siklus III ketuntasan
belajar siswa secara klasikal telah tercapai.
2. Kemampuan
Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa
dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan metode demonstrasi dalam setiap
siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi
belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa
pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3. Aktivitas
Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa
dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen pada pada pokok bahasan Arti
Pertobatan dengan metode demonstrasi yang paling dominan
adalah Bekerja dengan sesama teman sebangku, mendengarkan/memperhatikan
penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat
dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran
telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan
metode demonstrasi dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang
muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan
konsep, menjelaskan materi yang sulit, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab
dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan
selama tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah
dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Metode demonstrasi memiliki dampak positif dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan
belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (65,85%), siklus II (78,00%),
siklus III (87,80%).
2.
Metode demonstrasi dapat menjadikan siswa merasa
dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan,
ide dan pertanyaan.
3.
Penerapan metode demonstrasi mempunyai pengaruh
positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
B. Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian
sebelumnya agar proses belajar mengajar Pendidikan Agama Kristen lebih efektif
dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran
sebagai berikut:
- Untuk melaksanakan metode demonstrasi memerlukan
persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau
memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode demonstrasi
dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
- Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa,
guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode
pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan
pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa
berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
- Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena
hasil penelitian ini hanya dilakukan di SD YPK Pniel Sawar tahun pelajaran 2017/2018 .
- Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan
perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar.
Arikunto,. 1993. Manajemen
Mengajar Secara Manusiawi. Madiun : Rineksa Cipta.
Arikunto,
Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan. Madiun : Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Madiun : Rineksa Cipta.
Azhar, Lalu Muhammad. 1993. Proses
Belajar Mengajar Pendidikan. Madiun : Usaha Nasional
Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Madiun :
Rineksa Cipta.
Djamarah.
Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar.
Madiun : Rineksa Cipta.
Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research, Jilid 1.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi
Belajar dan Mengajar.
Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar.
Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Madiun
. Rineksa Cipta.
Masriyah. 1999. Analisis Butir
Tes.
Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan.
Nur, Moh. 2001. Pemotivasian
Siswa untuk Belajar.
Ramayulis, 2004. Metodologi Pendidikan Agama Kristen. Madiun : Kalam
Mulia
Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Madiun : Bina
Aksara.
Sardiman, A.M. 1996. Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar. Madiun : Bina Aksara.
Soekamto, Toeti. 1997. Teori
Belajar dan Model Pembelajaran. Madiun : PAU-PPAI, Universitas Terbuka.
Sukidin, dkk. 2002. Manajemen
Penelitian Tindakan Kelas.
Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional.
Suryosubroto, B. 1997. Proses
Belajar Mengajar di Sekolah. Madiun : PT. Rineksa Cipta.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi
Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru.
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional.
Lampiran 1
LEMBAR PENGAMATAN PENGELOLAAN METODE DEMONSTRASI
Nama Sekolah : SD YPK PNIEL SAWAR
Nama Guru : HENOCK LAMEKH IROTI,S.Pd
Mata Pelajaran : PAK Hari/tanggal : ………………………
Sub Konsep : Pertobatan Pukul
: ………………………
Petunjuk
Berikan penilan anda dengan memberikan tanda cek (√) pada
kolom yang sesuai.
|
No |
Aspek yang diamati |
Penilaian |
|||||
|
Ya |
Tidak |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
I |
Pelaksanaan
A. Pendahuluan
B. Kegiatan Inti
C. Penutup
|
|
|
|
|
|
|
|
II |
Pengelolaan
waktu |
|
|
|
|
|
|
|
III |
Antusiasme
kelas
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan Sarmi, ……….2017
- Kurang baik Pengamat
- Cukup baik
- Baik
- Sangat baik
HENOCKH LAMEKH IROTI,S.Pd
Nip.
1964010-82006051001
Lampiran 2
LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA DAN
GURU DALAM KBM
Nama
Sekolah : SD YPK Pniel Sawar Tanggal
:
Kelas/semester : V Waktu
:
Bahan
Kajian :
Pertobatan
Nama
Guru :HENOCK
LAMEKH IROTI,S.Pd
Petunjuk Pengisian
Amatilah
aktivitas guru dan siswa dalam kelompok sampel selama kegiatan belajar
berlangsung kemudian isilah lembar observasi dengan prosedur sebagai berikut:
1.
Pengamat dalam
melakukan pengamatan duduk di tempat yang memungkinkan dapat melihat semua
aktivitas siswa yang diamati.
2.
Setiap 2 menit
pengamat melakukan pengamatan aktivitas guru dan siswa yang dominan, kemudian 1
menit pengamat menuliskan kode kategori pengamatan.
3.
Pengamatan
ditujukan untuk kedua kelompok yang melakukan secara bergantian setiap periode
waktu tiga menit.
4.
Kode-kode kategori
dituliskan secara berurutan sesuai dengan kejadian pada baris dan kolom yang
tersedia.
5.
Pengamatan dilakukan
sejak guru memulai pelajaran dan dilakukan secara serempak.
|
Aktivitas
guru |
Aktivitas
siswa |
|
1. Menyampaikan tujuan 2. Memotivasi siswa/merumusan masalah. 3. Mengaitkan dengan pelajaran sebelumnya. 4. Menyampaikan langkah-langkah/strategi 5. Menjelaskan materi yang sulit 6. Memebimbing menemukan konsep. 7. Meminta siswa memikirkan untuk lebih memahami materi
pelajaran. 8. Memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab. 9. Membimbing siswa merangkum pelajaran. |
1. Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru. 2. Membaca buku. 3. Bekerja dengan sesama teman sebangku 4. Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. 5. Menyajikan hasil pembelajaran 6. Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide. 7. Menulis yang relevan dengan KBM. 8. Merangkum pembelajaran. 9. Mengerjakan tes evaluasi. |
|
|
Nama Guru: |
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
Nama Murid: |
|
Nama Murid: |
||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
|
Nama Murid: |
Nama Murid: |
|||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
Sarmi , 2017
Pengamat
HENOCKH LAMEKH IROTI,S.Pd
Nip. 1964010-82006051001
Lampiran 3
HASIL TES FORMATIF SIKLUS I
|
No. |
Nama |
Nilai |
Keterangan |
|
|
T |
TT |
|||
|
1 |
Bilha Cristina Bers |
80 |
√ |
|
|
2 |
Apner Spenyel Weyasu |
70 |
√ |
|
|
3 |
Agnes Alfonsina Marbo |
70 |
√ |
|
|
4 |
Febrianti.F .Manipora |
60 |
|
√ |
|
5 |
Deby yunitaWaiman |
80 |
√ |
|
|
6 |
Lamek. W Saweri |
60 |
|
√ |
|
7 |
Novela Marbo |
60 |
|
√ |
|
8 |
Imelda.M. Prasawi |
80 |
√ |
|
|
9 |
M.Nawir |
60 |
|
√ |
|
10 |
Marvin Samoa |
60 |
|
√ |
|
11 |
Roberto.G. Marbo |
60 |
|
√ |
|
12 |
Yulius .S Tafai |
70 |
√ |
|
|
13 |
Fanuel Ambani |
70 |
√ |
|
|
14 |
Faizal Kelurat |
70 |
√ |
|
|
15 |
Jitro.E.Sefa |
80 |
√ |
|
|
Jumlah |
1030 |
9 |
6 |
|
Keterangan:
T :
Tuntas
TT :
Tidak tuntas
Jumlah Siswa yang tuntas : 11
Jumlah siswa yang tidak tuntas : 4
Skor Tercapai : 1030
Rata-rata Skor Tercapai : 70,49
Prosentase Ketuntasan : 65,85%
Lampiran 4
HASIL TES FORMATIF SIKLUS II
|
No. |
Nama |
Nilai |
Keterangan |
|
|
T |
TT |
|||
|
1 |
Bilha Cristina Bers |
80 |
√ |
|
|
2 |
Apner Spenyel Weyasu |
70 |
√ |
|
|
3 |
Agnes Alfonsina Marbo |
70 |
√ |
|
|
4 |
Febrianti.F.Manipora |
80 |
√ |
|
|
5 |
Deby Yunita Waiman |
80 |
√ |
|
|
6 |
Lamek.W.Saweri |
60 |
|
√ |
|
7 |
Novela Marbo |
80 |
√ |
|
|
8 |
Imelda .M Prasawi |
80 |
√ |
|
|
9 |
M. Nawir |
60 |
|
√ |
|
10 |
Marvin Samoa |
60 |
|
√ |
|
11 |
Roberto.G .Marbo |
60 |
|
√ |
|
12 |
Yulius. S.Tafai |
70 |
√ |
|
|
13 |
Fanuel Ambani |
70 |
√ |
|
|
14 |
Faizal Kelurat |
70 |
√ |
|
|
15 |
Jitro.E.Sefa |
80 |
√ |
|
|
Jumlah |
1070 |
11 |
4 |
|
Keterangan:
T :
Tuntas
TT :
Tidak tuntas
Jumlah Siswa yang tuntas : 11
Jumlah siswa yang tidak tuntas : 4
Skor Tercapai : 1070
Rata-rata Skor Tercapai : 73,90
Prosentase Ketuntasan : 78,00
Lampiran 5
HASIL TES FORMATIF SIKLUS III
|
No. |
Nama |
Nilai |
Keterangan |
|
|
T |
TT |
|||
|
1 |
Bilha Cristina Bers |
80 |
√ |
|
|
2 |
Abner Spenyel Weyasu |
70 |
√ |
|
|
3 |
Agnes Alfonsina Marbo |
70 |
√ |
|
|
4 |
Febrianti.F.Manipora |
80 |
√ |
|
|
5 |
Deby Yunita Waiman |
80 |
√ |
|
|
6 |
Lamek.W.Saweri |
60 |
|
√ |
|
7 |
Novela marbo |
80 |
√ |
|
|
8 |
Imelda .M.Prasawi |
80 |
√ |
|
|
9 |
M. Nawir |
60 |
|
√ |
|
10 |
Marvin Samoa |
70 |
√ |
|
|
11 |
Roberto.G.Marbo |
80 |
√ |
|
|
12 |
Yulius .S.Tafai |
70 |
√ |
|
|
13 |
Fanuel Ambani |
70 |
√ |
|
|
14 |
Faizal Kelurat |
70 |
√ |
|
|
15 |
Jitro.E.Sefa |
80 |
√ |
|
|
Jumlah |
1100 |
13 |
2 |
|
Keterangan:
T :
Tuntas
TT :
Tidak tuntas
Jumlah Siswa yang tuntas : 13
Jumlah siswa yang tidak tuntas : 2
Skor Tercapai : 1100
Rata-rata Skor Tercapai : 77,80
Prosentase Ketuntasan : 87,80
Lampiran 6
Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran I
|
No. |
Nama (Guru-Siswa) |
P |
RP I (90 menit) |
Jumlah |
||||||||
|
|
Nama Guru |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
|
|
|
P1 |
2 |
3 |
3 |
2 |
6 |
5 |
3 |
4 |
2 |
30 |
||
|
P2 |
2 |
3 |
2 |
1 |
5 |
7 |
3 |
5 |
2 |
30 |
||
|
Rata-rata |
X |
2 |
3 |
2,5 |
1,5 |
5,5 |
6 |
3 |
4,5 |
2 |
30 |
|
|
Prosentase |
% |
6,67 |
10 |
8,3 |
5 |
18,3 |
20 |
10 |
15 |
6,67 |
100 |
|
|
1 |
Bilha Cristina Bers Apner Spenyel weyasu |
P1 |
4 |
4 |
6 |
4 |
1 |
2 |
3 |
2 |
4 |
30 |
|
P2 |
8 |
2 |
5 |
5 |
0 |
2 |
4 |
2 |
2 |
30 |
||
|
2 |
Agnes alfonsina Marbo Febrianti.F.manipora |
P1 |
6 |
4 |
6 |
4 |
1 |
2 |
2 |
2 |
3 |
30 |
|
P2 |
8 |
2 |
7 |
5 |
0 |
1 |
3 |
2 |
2 |
30 |
||
|
3 |
Deby Yunita Wiaman Lamek .W.Saweri |
P1 |
5 |
3 |
7 |
5 |
0 |
2 |
2 |
2 |
4 |
30 |
|
P2 |
10 |
4 |
4 |
4 |
0 |
1 |
3 |
2 |
2 |
30 |
||
|
4 |
Novela Marbo Imelda.M.Prasawi |
P1 |
4 |
4 |
7 |
5 |
1 |
2 |
2 |
3 |
2 |
30 |
|
P2 |
10 |
4 |
4 |
3 |
0 |
1 |
4 |
2 |
2 |
30 |
||
|
5 |
M.Nawir Marvin Samoa |
P1 |
6 |
2 |
8 |
4 |
2 |
0 |
2 |
2 |
4 |
30 |
|
P2 |
8 |
3 |
4 |
5 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
30 |
||
|
6 |
Roberto.G.Marbo Yulius.S.Tafai |
P1 |
6 |
4 |
6 |
4 |
0 |
2 |
2 |
2 |
4 |
30 |
|
P2 |
8 |
4 |
3 |
5 |
0 |
2 |
4 |
2 |
2 |
30 |
||
|
7 |
Fanuel Ambani Faizal Kelurat |
P1 |
5 |
4 |
6 |
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
3 |
30 |
|
P2 |
5 |
4 |
4 |
5 |
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
30 |
||
|
8 |
Jitro.E.Sefa |
P1 |
6 |
3 |
8 |
4 |
2 |
0 |
2 |
2 |
3 |
30 |
|
P2 |
9 |
4 |
5 |
4 |
0 |
1 |
3 |
2 |
2 |
30 |
||
|
Jumlah |
P1 |
42 |
28 |
54 |
33 |
9 |
13 |
17 |
17 |
27 |
240 |
|
|
P2 |
66 |
27 |
36 |
36 |
5 |
12 |
26 |
16 |
16 |
240 |
||
|
Rata-rata |
X |
54 |
27,5 |
45 |
34,5 |
7 |
12,5 |
21,5 |
16,5 |
21,5 |
240 |
|
|
Prosentase rata-rata |
% |
22,5 |
11,5 |
18,7 |
14,4 |
2,9 |
5,2 |
8,9 |
6,9 |
8,9 |
100 |
|
Keterangan:
Rata-rata (x)
Prosentase rata-rata (%)
Lampiran 7
|
No. |
Nama (Guru-Siswa) |
P |
RP I (90 menit) |
Jumlah |
||||||||
|
|
Nama Guru |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
|
|
|
P1 |
2 |
2 |
2 |
4 |
4 |
7 |
2 |
5 |
2 |
30 |
||
|
P2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
3 |
8 |
3 |
5 |
2 |
30 |
||
|
Rata-rata |
X |
2 |
2 |
2 |
3,5 |
3,5 |
7,5 |
2,5 |
5 |
2 |
30 |
|
|
Prosentase |
% |
6,7 |
6,7 |
6,7 |
11,7 |
11,7 |
25 |
8,2 |
16,6 |
6,7 |
100 |
|
|
1 |
Bilha Cristina Bers Apner Spenyel Weyasu |
P1 |
4 |
4 |
6 |
4 |
2 |
2 |
2 |
2 |
4 |
30 |
|
P2 |
6 |
3 |
5 |
5 |
1 |
3 |
2 |
2 |
3 |
30 |
||
|
2 |
Agnes Alfonsina Marbo Febrianti.F.Manipora |
P1 |
4 |
4 |
7 |
5 |
1 |
2 |
2 |
2 |
3 |
30 |
|
P2 |
7 |
3 |
5 |
4 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
30 |
||
|
3 |
Deby Yunita waiman Lamekh W .Saweri |
P1 |
4 |
4 |
6 |
4 |
2 |
2 |
2 |
2 |
4 |
30 |
|
P2 |
5 |
4 |
7 |
4 |
1 |
1 |
3 |
2 |
3 |
30 |
||
|
4 |
Novela Marbo Imelda.M.Prasawi |
P1 |
6 |
6 |
6 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
30 |
|
P2 |
5 |
4 |
7 |
4 |
1 |
1 |
3 |
2 |
3 |
30 |
||
|
5 |
M. Nawir Marvin Samoa |
P1 |
5 |
4 |
6 |
4 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
30 |
|
P2 |
8 |
2 |
6 |
4 |
1 |
2 |
2 |
2 |
3 |
30 |
||
|
6 |
Roberto.G.Marbo Yulius.S.Tafai |
P1 |
5 |
2 |
7 |
6 |
0 |
1 |
3 |
2 |
1 |
30 |
|
P2 |
6 |
3 |
7 |
6 |
0 |
1 |
2 |
2 |
3 |
30 |
||
|
7 |
Faizal Ambani Faizal Kelurat |
P1 |
6 |
4 |
6 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
4 |
30 |
|
P2 |
4 |
3 |
9 |
4 |
1 |
0 |
4 |
2 |
3 |
30 |
||
|
8 |
Jocely Terfi |
P1 |
4 |
4 |
6 |
4 |
2 |
2 |
2 |
2 |
4 |
30 |
|
P2 |
7 |
4 |
5 |
4 |
2 |
1 |
2 |
2 |
3 |
30 |
||
|
Jumlah |
P1 |
38 |
32 |
50 |
31 |
13 |
15 |
17 |
16 |
28 |
240 |
|
|
P2 |
48 |
26 |
51 |
35 |
9 |
11 |
20 |
16 |
24 |
240 |
||
|
Rata-rata |
X |
43 |
29 |
50,5 |
33 |
11 |
13 |
18,5 |
16 |
26 |
240 |
|
|
Prosentase rata-rata |
% |
17,9 |
12,1 |
21 |
13,8 |
4,6 |
5,4 |
7,7 |
6,7 |
10,8 |
100 |
|
Keterangan:
Rata-rata (x)
Prosentase rata-rata (%)
Lampiran 8
Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran III
|
No. |
Nama (Guru-Siswa) |
P |
RP I (90 menit) |
Jumlah |
||||||||
|
|
Nama Guru |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
|
|
|
P1 |
2 |
2 |
4 |
4 |
2 |
7 |
2 |
4 |
3 |
30 |
||
|
P2 |
2 |
2 |
2 |
4 |
4 |
6 |
4 |
3 |
3 |
30 |
||
|
Rata-rata |
X |
2 |
2 |
3 |
4 |
3 |
6,5 |
3 |
3,5 |
3 |
30 |
|
|
Prosentase |
% |
6,7 |
6,7 |
10 |
13,3 |
10 |
22,6 |
10 |
11,7 |
10 |
100 |
|
|
1 |
Bilha Cristina Bers Apner Spenyal weyasu |
P1 |
5 |
2 |
7 |
5 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
30 |
|
P2 |
6 |
3 |
6 |
5 |
1 |
1 |
3 |
2 |
3 |
30 |
||
|
2 |
Agnes Alfonsina Marbo Febrianti.F.Manipora |
P1 |
6 |
5 |
6 |
4 |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
30 |
|
P2 |
6 |
5 |
4 |
7 |
1 |
0 |
2 |
3 |
2 |
30 |
||
|
3 |
Deby Yunita waiman Lamekh.W.Saweri |
P1 |
5 |
4 |
10 |
2 |
0 |
3 |
1 |
2 |
3 |
30 |
|
P2 |
5 |
3 |
6 |
6 |
1 |
3 |
1 |
3 |
2 |
30 |
||
|
4 |
Novela Marbo Imelda.M.Prasawi |
P1 |
6 |
4 |
6 |
5 |
1 |
2 |
1 |
2 |
2 |
30 |
|
P2 |
8 |
5 |
4 |
6 |
0 |
2 |
1 |
2 |
2 |
30 |
||
|
5 |
M.Nawir Marvin Samoa |
P1 |
7 |
4 |
7 |
4 |
1 |
0 |
2 |
2 |
3 |
30 |
|
P2 |
9 |
5 |
7 |
4 |
0 |
1 |
0 |
2 |
2 |
30 |
||
|
6 |
Roberto.G.Marbo Yulius .S.Tafai |
P1 |
6 |
4 |
8 |
4 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
30 |
|
P2 |
8 |
3 |
7 |
4 |
0 |
0 |
3 |
2 |
3 |
30 |
||
|
7 |
Fanuel ambani Faizal kelurat |
P1 |
4 |
5 |
7 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
30 |
|
P2 |
7 |
3 |
6 |
6 |
0 |
0 |
3 |
3 |
2 |
30 |
||
|
8 |
Jitro.E.Sefa |
P1 |
5 |
5 |
7 |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
4 |
30 |
|
P2 |
7 |
4 |
8 |
4 |
1 |
0 |
2 |
2 |
2 |
30 |
||
|
Jumlah |
P1 |
44 |
33 |
58 |
29 |
10 |
13 |
14 |
16 |
23 |
240 |
|
|
P2 |
56 |
30 |
48 |
43 |
4 |
7 |
15 |
19 |
18 |
240 |
||
|
Rata-rata |
X |
50 |
31,5 |
53 |
36 |
7 |
10 |
14,5 |
17,5 |
20,5 |
240 |
|
|
Prosentase rata-rata |
% |
20,8 |
13,1 |
22,1 |
15 |
2,9 |
4,2 |
6,1 |
7,3 |
8,5 |
100 |
|
Keterangan:
Rata-rata (x)
Prosentase rata-rata (%)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )
Nama Sekolah : SD YPK PNIEL SAWAR
Mata
Pelajaran : Agama Kristen
Kelas /
Semester : V / 1
Standar Kompetensi : 1. Menjelaskan bahwa manusia berdosa, tetapi
diselamatkan Allah melalui penebusan Yesus Kristus.
Kompetensi Dasar : 1.1. Siswa
mampu menjelaskan bahwa manusia itu berdosa.
Indikator Pencapaian
Kompetensi - Menjelaskan perlunya memohon pengampunan
dari Allah.
Jenis Test
: Terstruktur.
Aspek / Skill :
Afektif dan kognitif.
Alokasi Waktu : 2 X 35’
pertemuan
: 1 dan 2
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1.
Pada akhir pelajaran siswa dapat :
- Mempraktekkan cara meminta maaf kepada orang lain karena telah berbuat
salah.
- Menelaah Kisah Para Rasul 9 : 1-19a; I Yohanes 1 : 9-10.
- Menjelaskan hal penting sebelum seseorang mamohon pengampunan.
- Menjelaskan hal-hal penting dalam mengampuni.
Pertemuan 2
Pada akhir pelajaran siswa dapat :
- Menjelaskan yang dimaksud bertobat.
- Menjelaskan proses pertobatan.
- Menjelaskan buah pertobatan.
* Karakter siswa yang diharapkan
:
- Religius, Jujur,
Disiplin, Kerja keras,
Kreaktif, Demokratif, Rasa
ingin tahu, Gemar membaca, Peduli
lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab.
* Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif :
- Berorientasi tugas dan hasil,
Berani mengambil resiko, Percaya diri, Keorisinilan, Berorientasi ke masa
depan.
B. MATERI PEMBELAJARAN
Pertemuan 1.
- Konsep penyesalan.
Pertemuan 2.
-
Arti pertobatan.
C.
METODE TEHNIK
- Informasi.
- Tanya jawab.
- Unjuk kerja.
D.
LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
Kegiatan Awal :
- Doa pembukaan
dilanjutkan dengan memuji Tuhan dengan permainan.
Kegiatan Inti :
* Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru :
- Penjelasan hal terpenting
sebelum seseorang memohon pengampunan. (nilai yang ditanamkan : Gemar membaca,
Peduli lingkungan, Pedulli sosial, Tanggung jawab)
- Penjelasan hal penting dalam
mengampuni. (nilai yang ditanamkan : Gemar membaca, Peduli lingkungan, Pedulli
sosial, Tanggung jawab)
- Penjelasan pengertian bertobat.
(nilai yang ditanamkan : Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras,
Kreatif, Demokratif, Rasa ingin tahu)
* Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
- Praktek memberi dan meminta
maaf. (nilai yang ditanamkan : Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja
keras, Kreatif, Demokratif, Rasa ingin tahu).
- Diskusi : proses pertobatan dan
buah pertobatan. (nilai yang ditanamkan : Gemar membaca, Peduli lingkungan,
Pedulli sosial, Tanggung jawab)
* Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, siswa :
- Menyimpulkan tentang hal-hal
yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan : Religius, Jujur, Toleransi,
Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Demokratif, Rasa ingin tahu)
- Menjelaskan tentang hal-hal yang belum
diketahui. (nilai yang ditanamkan : Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli
sosial, Tanggung jawab)
Kegiatan Akhir :
- Evaluasi.
- Memuji Tuhan dilanjutkan dengan doa penutup.
E. SUMBER BELAJAR
- Alkitab : Kisah Para Rasul 9 : 1-9; I Yohanes 1 : 9-10; Lukas 23 : 33-38; Matius 26 : 47-56.
- Buku KTSP : ”Allah Penyelamat”.
F. PENILAIAN
- Tehnik :
Penugasan.
- Prosedure : Test.
- Bentuk : Isian,
uraian.
- Instrumen : Daftar
pertanyaan.
G. EVALUASI
|
Nilai Budaya & Karakter Bangsa |
Indikator Pencapaian Kompetensi |
Tehnik Penilaian |
Bentuk Penilaian |
Contoh Instrumen |
|
* Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Demokratif,
Rasa ingin tahu, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung
jawab |
* Menjelaskan perlunya memohon pengampunan dari
Allah. |
Tes Tulis |
Jawab singkat |
* Mengampuni itu tidak mudah sebab
.................... *
Keselamatan adalah karunia Allah, artinya ....................... * Setelah
diampuni hidup saya harus ..................... * Contoh
sikap orang yang telah diselamatkan adalah ................ * Jika
kita minta ampun berarti kita berjanji untuk tidak mengulangi
.................... *
Bagaimana sikapmu jika kamu bersalah? * Mengapa
kita perlu membalas kejahatan dengan kebaikkan? *
Sebutkan 3 kebiasaan buruk yang sering kamu lakukan! * Jelaskan bagaimana caranya kamu memohon
pengampunan! * Sebutkan 3 hal yang menyebabkan kita susah
mengampuni! |
Mengetahui,
Kepala Sekolah
Guru Mata Pelajaran
HENOCK LAMEKH IROTI,S.Pd FITRI TODING ALLO,S.Th
NIP. 196401082006051001 NIP.
19800812 201104 2 002
RENCANA PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN
( R P P )
Nama Sekolah : SD YPK PNIEL SAWAR
Mata Pelajaran : Agama Kristen
Kelas / Semester : V / 1
Standar Kompetensi : 1.
Menjelaskan bahwa manusia berdosa, tetapi diselamatkan Allah melalui
penebusan Yesus Kristus.
Kompetensi Dasar : 1.1. Siswa mampu menjelaskan bahwa manusia
itu berdosa.
Indikator Pencapaian Kompetensi : Menjelaskan bahwa Allah mengampuni orang yang menyesali dosanya.
Jenis Test
: Terstruktur.
Aspek / Skill :
Afektif dan kognitif.
Alokasi Waktu :
2 X 35
pertemuan :
3 dan 5
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1.
Pada akhir pelajaran siswa
dapat :
- Menelaah ayat Alkitab yang berkaitan dengan penyesalan.
- Menyampaikan hasil telaah ayat Alkitab tersebut.
- Mengaplikasikan hasil telaah Alkitab dengan membuat renungan sederhana.
Pertemuan 2.
Pada akhir pelajaran siswa
dapat :
- Menyajikan aplikasi hasil telaah Alkitab.
- Memberikan tanggapan hasil telaah Alkitab.
* Karakter siswa yang diharapkan
:
- Religius, Jujur,
Disiplin, Kerja keras,
Kreaktif, Demokratif, Rasa
ingin tahu, Gemar membaca, Peduli
lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab.
*
Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif :
- Berorientasi tugas dan hasil,
Berani mengambil resiko, Percaya diri, Keorisinilan, Berorientasi ke masa
depan.
B. MATERI PEMBELAJARAN
Pertemuan 1.
- Konsep penyesalan.
Pertemuan 2.
- Tanggapan Allah dengan penyesalan seseorang.
C.
METODE TEHNIK
- Unjuk kerja.
- Penugasan.
D. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
Kegiatan Awal :
- Doa pembukaan dilanjutkan dengan memuji Tuhan dengan permainan.
- Apresiasi : - Apa yang kamu kerjakan setelah bangun
tidur?
- Adakah
masalah denganmu pagi ini?
Kegiatan Inti :
* Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru :
- Menelaah ayat Alkitab yang
berhubungan dengan penyesalan.Penjelasan hal terpenting sebelum seseorang
memohon pengampunan. (nilai yang ditanamkan : Religius, Jujur, Toleransi,
Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Demokratif, Rasa ingin tahu)
- Menyampaikan hasil telaah Alkitab tersebut. (nilai yang ditanamkan : Religius, Jujur,
Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Demokratif, Rasa ingin tahu)
* Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
- Latihan membuat renungan
singkat dengan tema penyesalan. Praktek memberi dan meminta maaf. (nilai yang
ditanamkan : Gemar membaca, Peduli lingkungan, Pedulli sosial, Tanggung jawab)
- Mempresentasikan renungan yang
dibuat. (nilai yang ditanamkan : Gemar membaca, Peduli lingkungan, Pedulli sosial,
Tanggung jawab)
- Menanggapi hasil presentasi.
(nilai yang ditanamkan : Gemar membaca, Peduli lingkungan, Pedulli sosial,
Tanggung jawab)
* Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, siswa :
- Menyimpulkan tentang hal-hal
yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan : Religius, Jujur, Toleransi,
Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Demokratif, Rasa ingin tahu)
- Menjelaskan tentang hal-hal
yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan : Gemar membaca, Peduli
lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab)
Kegiatan Akhir :
- Memuji Tuhan dilanjutkan dengan doa penutup.
E. SUMBER BELAJAR
- Alkitab : Matius 27 : 3-5; II Samuel 12 : 1-25; I Samuel 26 : 7-25;
Mazmur 103 : 9-13.
- Buku KTSP : ”Allah Penyelamat”.
F. PENILAIAN
- Tehnik :
Penugasan, unjuk kerja.
- Prosedure :
Non test.
- Bentuk :
Isian, uraian.
- Instrumen : Daftar pertanyaan.
G. EVALUASI
|
Nilai Budaya & Karakter Bangsa |
Indikator Pencapaian Kompetensi |
Tehnik Penilaian |
Bentuk Penilaian |
Contoh Instrumen |
|
* Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Demokratif,
Rasa ingin tahu, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung
jawab |
* Menjelaskan bahwa Allah mengampuni orang yang
menyesali dosanya. |
Tes Tulis |
Jawab singkat |
* Yudas menyesal telah menjual Yesus dengan
............... keping perak. * Murid
Yesus yang menyangkal sampai 3 kali adalah ................. * Dalam
Roma 5 : 1 kita dapat dibenarkan karena ................... * Dengan
dibenarkan kita dapat hidup damai dengan .............. *
Perbuatan kita yang salah harus
disadari, artinya mengingatkan kita supaya jangan ...................... * Dengan
cara apa nabi Natn menyadarkan Daud dari kesalahannya? * Hukuman
apa yang ditimpakan Tuhan kepada Daud? * Daud
berkata, ”Aku sudah berdosa kepada Tuhan ”. Apakah kata-kata ini merupakan
ungkapan ”kesadaran”, ”penyesalah”, permohonan ampun’ atau ”pertobatan”?. * Kalau
kamu melakukan kesalahan, apa yang kamu lakukan? *
Tuliskanlah satu doa pengakuan dosa! |
Mengetahui,
Kepala Sekolah
Guru Mata Pelajaran
HENOCK LAMEKH IROTI,S.Pd FITRI TODING ALLO, S.Th
NIP. 196401082006051001 NIP.
19800812201104 2 002
DINAS
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SD YPK PNIEL SAWAR
Alamat
:Jalan Kampung Sawar, DistrikSarmi
BERITA ACARA
PELAKSANAAN SEMINAR
Pada hari ini kamis
tanggal delapan bulan maret
tahun dua ribu delapan belas telah
dilaksanakan seminar hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) berjudul
“Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Dengan diterapkannya
Metode Demonstrasi Kelas V SD YPK PNIEL SAWAR Kabupaten Sarmi Tahun Pelajaran 2017/2018” Oleh FITRI TODING ALLO, S.Th. (Guru Bidang
Studi Pendidikan Agama Kristen SD YPK Pniel sawar) bertempat di SD YPK Pniel
Sawar.
Daftar hadir peserta seminar terlampir.
Demikian berita acara ini dibuat untuk dapat
dipergunakan sebagaimana mestinya.
Sarmi, 08 Maret 2018
Kepala Sekolah
HENOCK LAMELKH IROTI,S.Pd
NIP 196401082006051001
DINAS
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SD YPK PNIEL SAWAR
Alamat
:Jalan Kampung Sawar, DistrikSarmi
DAFTAR HADIR
Hari/tanggal : Kamis,
08 Maret 2018
Waktu : 09.30 s.d.selesai
Tempat : SD YPK PNIEL SAWAR
Acara : Seminar Hasil PTK
|
No |
Nama |
Asal Sekolah |
Tanda Tangan |
|
1 |
|
|
|
|
2 |
|
|
|
|
3 |
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
6 |
|
|
|
|
7 |
|
|
|
|
8 |
|
|
|
|
9 |
|
|
|
|
10 |
|
|
|
|
11 |
|
|
|
|
12 |
|
|
|
|
13 |
|
|
|
|
14 |
|
|
|
|
15 |
|
|
|
|
16 |
|
|
|
Sarmi, 08 Maret 2018
Kepala sekolah
HENOCK LAMELKH IROTI,S.Pd
NIP 196401082006051001
Komentar
Posting Komentar